Benahkah jodoh itu seseorang yg telah mjd pasangan hidup kita? Ternyata TIDAK! karena jodoh itu adanya d surga bukan d dunia. Ingatkah kisah tentang para nabi yg tdk bersama istrinya d surga? Istri Nabi Nuh..sampai meninggal ia masih menjadi istri beliau,tapi di surga mereka tidak bertemu karena istrinya di neraka.
Atau kisah Asiyah istri fir'aun, sampai Asiyah meninggal ia menjadi istri Fir'aun, tapi di akhirat mereka tidak berjumpa karena Asiyah d surga, sedang fir'aun di neraka. Jadi belum tentu antara suami istri itu adalah jodoh kecuali memang Alloh merahmati mereka untuk berkumpul di surga-Nya.
Jika keimanan d antara suami istri itu tidak sama,maka bisa jadi mereka adalah pasangan di dunia,tapi tidak berjodoh di surga..karenanya salinglah mencintai karena Alloh,bukan karena tampannya,hartanya atau memang kita benar-benar mencintainya sampai-sampai melebihi kecintaan kita kepada Alloh.
Nah bagi yang belum menikah jangan khawatir, semua orang punya jodohnya masing2-masing.jika belum menemukan pasangan di dunia, maka Alloh akan menggantikanya di surga, tapi itu kita dapat kalau kita benar bisa masuk surga.
Karena apa? karena di neraka tidak ada jodoh, yang ada hanyalah siksaan. Mari tingkatkan keimanaan kita sampai ajal menjemput, agar kita mendapatkan jodoh yg sudah di tuliskan Alloh untuk kita..
Selengkapnya...
Senin, 27 Juni 2011
Suami Istri, Apakah Mereka Berjodoh ?
Minggu, 19 Juni 2011
Namaku Adalah Pedang....
Bismillah...
Aku ada karena Allah berkehendak melahirkanku dari rahim seorang ibu yang sangat tulus berdoa untuk menjawab vonis dokter, yang menyatakan bahwa ayahku tidak bisa memberikan keturunan alias mandul.
Ia seorang wanita yang yakin bahwa semuanya adalah mungkin jika Allah menghendaki, kun fayakun, sedangkan ayahku setiap hari berbekal dengan kalimat laa khaula walaa quwwata illa billah. Dari doa dan keyakinan mereka Allah memercikkan kebahagiaan. Ditengah-tengah kesedihan ayahku, umi hamil.
“ badanku sakit semua “ keluh umiku sepulang dari tempatnya bekerja. Maklum jaraknya lumayan jauh dari condet umi harus pulang pergi ke cempaka putih setiap hari, jatah liburnyapun hanya sebulan sekali. ia memanfaatkan waktu untuk rebahan sambil menunggu ayah yang sedang keluar membeli lauk.
“ assalamualaikum…mas sudah datang, ayo makan sayang…” dengan muka cerianya ayah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
“ waalaikumussalam…”
Ternyata melihat telur yang ayah beli selera makan umi menjadi hilang, ia malah mual mencium baunya, tapi ayah tidak bersedih ia langsung keluar menuju rumah temannya untuk meminta air panas, karena waktu itu kami belum punya kompor.
19 hari sudah umi telat datang bulan, tapi ayah belum begitu yakin dengan kehamilannya, sampai 2 bulanpun ayah tidak bisa percaya. Padahal sudah terbukti hasil tespek menunjukkan tanda positif. Baru setelah seorang bidan bilang bahwa ada janin di perut umi yang sudah berusia 3 bulan, ayah langsung membelai perut umi, sangat lirih ia berucap “ saif…”itulah asal mula namaku, saif yang berarti pedang.
Kini usiaku sudah 1,5 tahun, aku sudah makin pintar membantu umi memasak, memotong sayuran, dan mengelap air yang aku tumpahin ke lantai, aku sangat bangga walau kata umi sayurannya menjadi rusak karena ulahku, setiap hari aku selalu membaca alquran, buku-buku koleksi ayah, menulis di kertas dan kadang-kadang kalau ada kesempatan aku mengetik di computer kantor ayah, walau sebenarnya aku tidak tahu apa yang aku baca dan aku tulis, tapi umi membiasakannya setiap hari.
Kata umi tulis apapun yang ingin kau tulis, buka lembaran buku-buku yang ada asal jangan di sobek, tapi kalau aku buka lembaran alquran umi sangat ketat mengawasiku. Umi selalu mengajariku untuk melafazkan huruf –huruf hijaiyah, umi juga tidak pernah bosan mengenalkanku tentang rukun islam, rukun iman, sifat Allah dan lain sebagainya lewat nyanyian sehingga aku senang mendengarnya, walau kata ayah suara umi jelek tapi bagiku suara umI begitu menenangkanku. Itulah sekilas tentang umiku yang menjadi guru pertama dalam kehidupanku.
Sekarang aku akan bercerita tentang ayah.
Ayah adalah pahlawanku, ia begitu gagah duduk di atas motor cb hitamnya yang sangat keren, melaju dengan pelan meninggalkanku yang menangis digendongan umi karena tak ingin ia pergi. Padahal aku tahu ayah pergi bukan untuk main atau sekedar jalan- jalan, tapi ia pergi untuk menyelesaikan tugas dakwahnya yang sangat berat diluar sana.
Setiap pagi ayah juga pergi untuk bekerja mencari maisyah untuk kami, malamnya biasanya ayah menghabiskan waktu untuk keluar, dimana ada kajian ia datangi, sampai orang bingung harokah apa sih sebenarnya yang telah mengikatnya? Itulah ayahku yang membuang jauh-jauh sifat ashobiyah yang mengerucutkan persatuan umat.
Disela-sela waktu santainya, ia selalu bercerita kepadaku tentang kerasnya hidup, tentang kesabaran Rosululloh, ketegaran para sahabat, tentang jihad, tentang apa saja yang sedang ia kerjakan , ia juga selalu memberi pengarahan kepadaku terkait keaktifanku di rumah yang sering membuat umi kesal, ia begitu pandai membahasakannya kepadaku sehingga akupun dengan mudah dapat mengerti apa yang ia bicarakan, apa yang ia inginkan dariku.
Kalau sudah kompak seperti ini baru deh umi tersenyum ceria dan memberikan hadiah ciuman untuk kami, itulah waktu-waktu yang sering aku rindukan.
Ayah adalah orang yang paling sabar, ia tak pernah marah ketika aku mengganggu tidurnya, menggelitiki pusernya, dan menciumi wajahnya yang terlihat lelah. Tak puas dengan semua itu akupun sering kali menaiki perutnya yang cukup buncit sampai ia kesakitan dan terbangun. Ia tak pernah marah malah tertawa geli dan balik menciumiku sampai aku teriak-teriak brontak karena geli terkena jenggotnya.
Ayahku…sedikit sekali waktu istirahatmu, sebenarnya aku tak ingin mengganggumu tapi rasa sayang dan rindukulah yang menginginkan untuk bisa bermain dan bercanda denganmu. Dan sepertinya umi juga mempunyai perasaan yang sama denganku. Ayah maafkan aku.
Saif sayang umi dan ayah, semoga kebersamaan kita akan terjaga sampai di surga kelak, aamiin.
Oleh Iqtina Khansa (Ummu Jihad)
Selengkapnya...
Sabtu, 18 Juni 2011
Karena Kami Sangat Menyayanginya....
“Saif tidak di imunisasi? masyaAllah…gimana kalau tiba- tiba dia sakit? Ga bisa jalan dan terkena penyakit dalam?”
Seorang teman berkata sambil setengah berteriak karena kaget setelah tahu bahwa anak kami tidak diimunisasi, sambil tersenyum saya berujar kepadanya “ iya, kami tidak mengimunisasi anak kami, karena kami sangat menyayanginya…”
Imunisasi bagi kami adalah memasukkan racun / bibit penyakit kedalam tubuh yang sehat, yang justru akan berdampak negative untuk perkembangan fisik dan otak kita.
Sebuah testimony “ seorang anak usianya masih dibawah 3bulan, ia memiliki mata yang sangat jernih dan tidak terlihat kotoran apapun didalamnya, selang beberapa hari sang ibu membawanya ke posyandu untuk di vaksin hepatitis. Setelah diimunisasi badannya panas dan tidak turun- turun, lalu dibawa ke terapis untuk di urut, sang terapis memperlihatkan lingkaran hitam di mata bayinya dan ia menjelaskan kepada ibunya bahwa hati anaknya sudah tidak sehat. Setelah dijelaskan itu adalah dampak dari vaksin menyesallah sang ibu”
Imunisasi bagi kami adalah senjata zionis untuk melemahkan generasi muda islam sehingga jiwa dan akalnya menjadi rusak dan jauh dari sehat. Oleh karenanya mereka tidak perlu repot-repot berperang menggunakan senjata api untuk memusnahkan islam. Imunisasi bagi kami adalah sebuah ladang bisnis bagi yahudi untuk meningkatkan perekonomian mereka dengan memperluas dan memperbesar usaha kedokteran dan obat-obatan haram agar di konsumsi oleh umat islam.
Karena dengan banyaknya orang sang sakit maka banyak pula yang memerlukan obat , kejahatan mereka tidak sampai disitu saja, setiap obat produksi mereka semua mempunyai efek samping, apa gunanya? Supaya setelah yang sakit sembuh akan muncul penyakit baru di tubuh manusia. Itu berarti keuntungan besar bagi mereka.
Imunisasi bagi kami adalah ajang kristenisasi yang tidak disadari oleh umat islam, sama halnya dengan KB, persalinan ceasar dan posyandu yang berlindung dalam naungan program pemerintah.
Imunisasi bagi kami adalah menyusui selama 2 tahun. Inilah sebaik- baik imunitas alami dalam tubuh yang tak mungkin tergantikan. Imunisasi bagi kami adalah madu dan kurma, inilah sebaik- baik makanan yang menyehatkan.
Bukan karena keterbelakangan kami, bukan juga karena karena kalian menganggap kami aneh makanya kami tidak mengizinkan anak kami diimunisasi, tapi karena kami menginginkan generasi yang terbaik yang akan menjadi para kesatria di medan dakwah islam untuk kemenangan dien kami. Inilah kami yang sangat menyayangi anak- anak kami.
Oleh : Iqtina Khansa
Selengkapnya...
